Apang Bugis Makassar: Manisnya Kisah di Rawalumbu, Bekasi

Di tengah hiruk-pikuk Rawalumbu, Bekasi, tersembunyi sebuah harta karun kuliner yang membawa kita langsung ke jantung Sulawesi Selatan: kue apang atau apang coe. Jajanan tradisional khas suku Bugis-Makassar ini biasanya sulit ditemukan di luar daerah asalnya, tetapi di sini, sepasang tangan terampil dari Pemalang, Jawa Tengah, berhasil menghidupkan kembali pesona kue apang dengan cita rasa otentik yang tak tertandingi.

Kami bertemu dengan Ibu Siti dan Ibu Aminah, dua wanita tangguh asal Pemalang yang sudah dua tahun belakangan ini berjualan kue apang di pinggir jalan Rawalumbu. “Awalnya kami cuma coba-coba, tapi ternyata banyak yang suka,” ujar Ibu Siti sambil tersenyum ramah. Berbeda dari kebanyakan penjual kue tradisional, mereka tidak menjual apang dengan beragam topping modern. Sebaliknya, mereka fokus pada satu hal: mempertahankan rasa aslinya.

Kue apang buatan mereka terbuat dari perpaduan tepung beras, gula merah, dan santan, dikukus hingga mengembang sempurna. Teksturnya lembut, sedikit kenyal, dan yang paling penting, rasa manis gula merahnya begitu otentik dan tidak berlebihan. “Rahasia kami cuma satu, kami tidak pernah mengubah resep dari keluarga Bugis yang mengajari kami,” ungkap Ibu Aminah.

Fenomena kue apang di Rawalumbu ini menunjukkan bagaimana makanan kaki lima mampu menjadi jembatan budaya. Kue apang yang tadinya hanya dikenal di kalangan tertentu, kini dinikmati oleh warga Bekasi dari berbagai latar belakang. Ini adalah bukti bahwa cita rasa tradisional yang jujur selalu punya tempat di hati para penikmat kuliner. Kisah Ibu Siti dan Ibu Aminah tidak hanya tentang berjualan kue, tetapi juga tentang melestarikan warisan kuliner sambil memberikan pengalaman rasa yang berbeda, di mana setiap gigitannya terasa seperti sebuah perjalanan singkat ke Makassar.

Tinggalkan komentar